5 Makanan Tradisional yang Dulunya Hidangan Bangsawan

65 views 4:54 pm 0 Comments January 24, 2026

Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya.

Ada makanan yang sekarang bisa kita beli di pinggir jalan, tapi dulunya cuma muncul di meja orang-orang tertentu. Bahkan, nggak semua orang boleh makan.

Zaman dulu, makanan bukan sekadar urusan kenyang. Kadang naik tingkat jadi soal status. Tentang siapa kamu, dari kalangan mana, dan pantas atau tidak duduk di meja tertentu.

Jadi wajar kalau beberapa makanan tradisional Indonesia awalnya cuma dinikmati bangsawan, keluarga kerajaan, atau orang-orang terpandang.

Sekarang? Ceritanya jelas beda. Tapi jejak masa lalunya masih terasa di 5 masakan berikut ini!

1. Gudeg, yang Awalnya Bukan Makanan Sembarangan

Sekarang gudeg ada di mana-mana. Dari warung kecil sampai restoran. Namun dulunya, gudeg bukan makanan “asal bikin”.

Gudeg berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta. Proses masaknya lama. Nggak praktis. Dan butuh bahan yang konsisten kualitasnya.

Ini penting, karena dapur keraton nggak main-main soal rasa.

Nangka muda dimasak berjam-jam. Bukan lima menit, ataupun sejam. Sangat lama sampai bumbunya benar-benar menyatu.

Semua itu butuh waktu, tenaga, dan kesabaran. Tiga hal yang dulu cuma dimiliki kalangan tertentu.

Sekarang mayoritas orang bisa makan gudeg. Tapi “rasa sabar” dari prosesnya masih ikut tersaji. Aneh tapi nyata.

2. Rawon, Sup Hitam yang Dulu Terlihat “Serius”

Rawon itu bukan sup yang lite. Dari tampilannya saja sudah kelihatan. Berwarna hitam, pekat, dan aromanya kuat.

Di masa lalu, rawon sering disajikan untuk acara penting. Entah jamuan, pertemuan resmi, atau tamu yang nggak bisa disuguhi sembarang makanan.

Daging sapi waktu itu mahal. Kluwek juga bukan bahan harian, lho.

Makanya rawon jarang muncul di meja rakyat biasa. Kalau ada, itu momen khusus.

Sekarang rawon sudah merakyat. Tapi tetap saja, rasanya masih terasa “dewasa”. Nggak main-main. Dan mungkin memang dari dulu begitu niatnya. Hebat, ya!

3. Opor Ayam, Makanan yang Selalu Hadir Saat Acara Besar

Opor itu menarik. Karena sampai sekarang pun, kita masih memperlakukannya sebagai makanan spesial.

Dulu, opor ayam sering hadir di acara bangsawan dan perayaan penting. Bukan bersebab tampilannya yang mewah, tapi karena bahannya. Santan kental, rempah lengkap, dan ayam yang dimasak perlahan.

Zaman dulu, nggak semua orang bisa masak opor kapan saja.

Jadi ketika opor disajikan, itu tandanya ada sesuatu yang dirayakan.

Mungkin itu sebabnya sampai sekarang, opor masih terkesan “resmi”. Walaupun kita makannya sambil duduk lesehan di rumah sendiri.

4. Nasi Liwet Solo, Simbol Kehangatan yang Terjaga

Nasi liwet sering disebut makanan rumahan. Hanay saja asal-usulnya cukup dekat dengan lingkungan keraton Solo.

Awalnya nasi dimasak dengan santan, lalu disajikan dengan lauk yang lengkap. Mulai dari ayam, telur, areh, hingga sayur. Semuanya seimbang. Nggak berlebihan, tapi juga nggak seadanya.

Di masa lalu, nasi liwet sering disajikan dalam acara keluarga bangsawan.

Cara makannya pun penuh tata krama. Pelan. Nggak terburu-buru.

Sekarang nasi liwet bisa dimakan rame-rame. Cuma entah kenapa, nuansa kebersamaannya masih ikut terbawa. Mungkin itu bukan kebetulan.

5. Semur Daging, Jejak Bangsawan yang Masih Terasa

Semur punya cerita yang agak beda. Ia lahir dari pertemuan budaya. Dan biasanya, yang pertama mencicipi hasil pertemuan budaya itu adalah kalangan atas.

Daging sapi, kecap, dan rempah bukan kombinasi murah di zamannya, lho. Semur sering disajikan di rumah priyayi dan bangsawan sebagai hidangan jamuan.

Rasanya manis, rapi, dan seolah tertata.

Sampai sekarang pun, semur sering muncul di acara penting. Jarang ada yang masak semur “asal-asalan”.

Dari Hidangan Eksklusif ke Menu Sehari-hari

Yang menarik dari semua makanan ini bukan cuma rasanya, melainkan perjalanannya. Dari hidangan terbatas, lalu perlahan turun ke semua kalangan.

Sekarang kita bisa menikmatinya tanpa perlu memikirkan status sosial. Tapi cerita di baliknya tetap ada. Diam-diam ikut tersaji di atas piring.

Kalau suka cerita makanan yang bukan cuma soal resep, tapi juga soal asal-usul dan perjalanan rasa, kamu bisa terus mampir ke agoodcookingday.com.

Karena kadang, makanan paling menarik justru datang dari masa lalu yang panjang. Ciayo!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *