Kalau ngobrol soal masakan Jawa, satu hal yang hampir selalu bikin diskusi panjang adalah soal rasa. Iya, manis!
Ada yang langsung jatuh cinta, sebagian lagi malah bilang, “Kok manis semua, sih?”
Tapi justru di situlah menariknya.
Rasa manis dalam masakan Jawa itu bukan kebetulan. Bukan juga asal nambah gula. Ada cerita, kebiasaan, dan selera turun-temurun yang ikut membentuknya.
Dan percaya atau tidak, banyak masakan Jawa yang manis justru terasa comforting. Kayak makanan yang nggak diolah buru-buru, dimasak pelan, dan dinikmati santai.
Nah, dari sekian banyak kuliner Jawa, ini di antara 5 masakan yang paling sering disebut kalau bicara soal rasa manis yang ikonik.
1. Gudeg, Masakan yang Nggak Pernah Lepas dari Kata “Manis”
Gudeg itu semacam paket lengkap. Mau kamu suka atau tidak, namanya pasti pernah dengar.
Terbuat dari nangka muda yang dimasak lama, bahkan lama banget, gudeg dikenal dengan rasa manisnya yang khas.
Gula jawa dan santan jadi kunci. Tapi yang bikin beda adalah waktu. Gudeg nggak bisa diracik diburu-buru. Semakin lama dimasak, rasanya makin dalam.
Menariknya, gudeg jarang dimakan sendirian. Selalu ada krecek pedas, telur pindang, atau ayam kampung sebagai penyeimbang.
Jadi walaupun manis, rasanya nggak “nabrak”. Justru saling melengkapi. Sepakat, kan?
2. Semur Jawa, Manis yang Rasanya Familiar
Kalau gudeg terasa spesial, semur Jawa justru terasa akrab.
Ini tipe masakan yang sering muncul di rumah-rumah, terutama saat acara keluarga.
Berbeda dengan semur ala daerah lain, versi Jawa biasanya lebih dominan manis. Kecap manis dan gula jawa benar-benar terasa, tetapi tetap dibalut bumbu yang ringan.
Rasanya soft. Nggak meledak-ledak, tapi bikin pengen nambah nasi.
Semur daging, ayam, atau bahkan telur sering jadi andalan karena mudah disiapkan dan tahan lama. Anehnya lagi, semur selalu terasa lebih enak kalau dimakan keesokan harinya.
Pernah ngerasain?
3. Bacem, Sederhana Tapi Diam-Diam Juara
Bacem itu kelihatannya biasa saja. Tahu, tempe, direbus. Selesai.
Eittts… jangan salah!
Proses perebusan dengan air kelapa, gula jawa, dan rempah bikin bacem punya rasa manis yang halus sekaligus meresap.
Setelah digoreng sebentar, bagian luarnya agak kering, dalamnya tetap juicy.
Bacem sering diremehkan karena terlalu sederhana. Padahal justru di situlah kekuatannya. Nggak ribet, tapi konsisten enak.
Dan jujur saja, bacem itu salah satu lauk yang sulit ditolak.
4. Ayam Goreng Kalasan, Manisnya Nempel Sampai Dalam
Ayam goreng biasanya identik dengan rasa gurih. Namun ayam goreng Kalasan beda cerita.
Sebelum digoreng, ayam direbus dulu dengan bumbu lengkap, air kelapa, dan gula jawa.
Jadi jangan heran kalau dagingnya berasa manis, bahkan sampai ke bagian dalam. Ini bukan ayam goreng yang cuma enak di kulit, lho.
Disajikan dengan sambal dan lalapan, ayam Kalasan justru terasa seimbang. Manisnya ayam ketemu pedas sambal, langsung klop.
Yup, ini tipe menu yang hampir selalu aman buat siapa saja.
5. Tongseng Jawa, Manis yang Datang Pelan-Pelan
Tongseng sering dianggap pedas dan kuat. Tapi versi Jawa Tengah biasanya punya sentuhan manis yang cukup terasa.
Kecap dan gula jawa bikin kuah tongseng lebih “ramah”. Aroma daging kambing tetap ada, tapi nggak terlalu menusuk.
Ini yang bikin tongseng Jawa lebih mudah diterima, bahkan oleh yang biasanya kurang suka olahan kambing.
Manisnya bukan yang langsung terasa di suapan pertama. Rasa manis tersebut muncul belakangan. Pelan-pelan. Dan justru itu yang bikin nagih.
Kenapa Masakan Jawa Banyak yang Manis?
Sederhananya, karena itu selera yang tumbuh bersama budaya.
Gula jawa mudah didapat, kelapa melimpah, dan filosofi hidup Jawa yang cenderung mencari keseimbangan ikut memengaruhi rasa masakan.
Manis di sini bukan berarti berlebihan. Tapi jadi penenang. Pengikat rasa. Mungkin juga pengingat bahwa makanan itu nggak selalu harus keras dan ekstrem.
Kalau suka cerita-cerita kuliner yang bukan cuma soal resep, tapi juga rasa dan maknanya, kamu bisa terus eksplor di agoodcookingday.com.
Karena kadang, makanan terenak itu bukan yang paling rumit, melainkan yang paling terasa relate.